Selamaatttt hari Selasaaaa :D Duuh, pagi ini dingiin di Kota Gadis, kemarin sore sampe malem hujan gak berhenti- berhenti. Tapi kali ini saya gak akancerita soal prakiraan cuaca, banjir atau penyakit dimusim penghujan. Saya hanya mau membagikan informasi mengenai cuplikan surat dari Abraham Lincoln kepada guru dari putranya (diambil dari buku Born to be Happy by Promod Batra, MBA)
Ini cuplikannya :
….Ia memang harus belajar, saya tahu, bahwa manusia tidak adil, manusia tidak benar. Tetapi ajari ia juga, bahwa di antara orang-orang jahat ada seorang pahlawan; bahwa di antara para politisi yang suka mementingkan diri, ada seorang pemimpin yang berdedikasi.
Ajari ia bahwa di antara musuh ada seorang sahabat. Semua memerlukan waktu, saya tahu itu, tetapi ajari ia sebisa Anda, bahwa satu dolar yang diusahakan jauh lebih berharga daripada lima dolar yang ditemukan.
Ajari ia untuk belajar kalah dan juga untuk menikmati kemenangan. Arahkan ia agar menjauhi keirihatian. Sebisa Anda, ajari ia rahasia tawa dalam diam. Biarkan ia belajar dengan cepat bahwa anak-anak pengganggu paling mudah dikalahkan.
Ajari ia, sebisa Anda, indahnya buku-buku, tetapi berikan juga kepadanya waktu untuk berpikir secara mendalam tentang misteri dari burung-burung di angkasa, lebah-lebah di teriknya sinar matahari, bunga-bunga di lereng bukit hijau.
Ajari ia di sekolah bahwa jauh lebih terhormat untuk gagal daripada menipu dan mencontek
Ajari ia untuk mempunyai kepercayaan dalam gagasan pribadinya, meskipun orang lain mengatakan kepadanya bahwa gagasan-gagasannya itu salah. Ajari ia untuk erlakum lembut terhadap orang-orang yang bertabiat lembut, dan berlaku keras terhadap orang yang keras.
Cobalah untuk memberi putra saya kekuatan untuk tidak mengikuti kelompok terbesar ketika semua orang mengikuti pendapat orang banyak.ajari ia untuk mendengarkan semua orang, tetapi ajari ia juga untuk menyaring segala sesuatu yang ia dengar melalui saringan kebenaran dan hanya mengambil yang baik-baik saja.
Ajari ia, sebisa Anda, bagaimana untuk tertawa di kala sedang bersedih. Ajari ia agar tidak malu untuk menangis. Ajari ia untuk menertawakan yang sinis dan berhati-hati dengan kemanisan yang berlebihan.
Ajari ia untuk menjual tenaga dan pikiran kepada penawar yang tertinggi, tetapi jangan pernah mencantumkan label harga untuk sanubarinya. Ajari ia untuk menutup kedua telinganya terhadap kelompok orang yang melolong-lolong dan berani berdiri dan berjuang bila menurutnya dirinyalah yang benar.
Ajari ia dengan penuh kelembutan ,tetapi janganlah memanjakannya. Biarkan ia mempunyai keberanian untuk tidak bersabar, biarkan ia mempunyai kesabaran untuk berani.
Ajari ia selalu memiliki kepedulian mulia terhadap umat manusia. Pesan ini berat, akan tetapi lakukan saya sebaik Anda. Ia anak laki-laki kecil yang baik, putraku.
Semoga bisa jadi bahan renungan ya, bahwa kadang sebagai orang tua kita harus menghargai proses daripada hasil akhir, mengajarkan anak mencoba jujur dengan diri sendiri dengan tidak mencontek dan tidak takut gagal. Semoga bermanfaat, selamat beraktifitas temans :)
KURNIAWAN'S FAMILY
Kurniawan's Family
Tampilkan postingan dengan label motivasi diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi diri. Tampilkan semua postingan
Selasa, 29 Januari 2013
Minggu, 23 September 2012
Sang Penghibur
Setiap perkataan yang menjatuhkan tak lagi ku dengar dengan sungguh,
Juga tutur kata yang mencela tak lagi kucerna di dalam jiwa,
Aku bukanlah seorang yang mengerti tentang kelihaian membaca hati,
Aku cuma pemimpi kecil yang berangan tuk merubah nasibnya,
Oh bukankah ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yg lelah jiwanya…
Ku gerak kan langkah kaki dimana cinta akan bertumbuh,
Kulayangkan jauh mata memandang tuk melanjutkan mimpi yang terputus,
Masih kucoba.. mengejar rinduku meski peluh membasahi tanah,
Letih, penat tak menghalangiku tuk temukan bahagia,
Oh bukankah ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yg lelah jiwanya
Bagai bintang yang bersinar menghibur yang lelah jiwanya,
bagai bintang yang berpijar menghibur yang sedih hatinya.
***Note : Akhir - akhir ini saya sedang suka(lagi) dengan lagu ini. Betul - betul menyemangati saya yg sedang galau versi anak mudanya,
Haaahhhhtake a deep breath semoga Allah senantiasa terus menambah sto sabar untuk saya :)
Juga tutur kata yang mencela tak lagi kucerna di dalam jiwa,
Aku bukanlah seorang yang mengerti tentang kelihaian membaca hati,
Aku cuma pemimpi kecil yang berangan tuk merubah nasibnya,
Oh bukankah ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yg lelah jiwanya…
Ku gerak kan langkah kaki dimana cinta akan bertumbuh,
Kulayangkan jauh mata memandang tuk melanjutkan mimpi yang terputus,
Masih kucoba.. mengejar rinduku meski peluh membasahi tanah,
Letih, penat tak menghalangiku tuk temukan bahagia,
Oh bukankah ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yg lelah jiwanya
Bukankah hidup ada perhentian
Tak harus kencang terus berlari
Kuhela kan nafas panjang
Tuk siap berlari kembali
Bagai bintang yang bersinar menghibur yang lelah jiwanya,
bagai bintang yang berpijar menghibur yang sedih hatinya.
***Note : Akhir - akhir ini saya sedang suka
Haaahhhh
Label:
curhat,
motivasi diri,
Renungan
Minggu, 14 Juni 2009
Berani kerja berani capek???

Agaknya tagline diatas bukan hanya sekedar tagline sebuah produk multivitamin untuk mempengaruhi konsumennya. Tapi bisa benar2 kita terapkan dalam semua aktivitas sehari hari kita.
Seringkali perasaan mengeluh muncul ketika tujuan kita untuk menyelesaikan pekerjaan mengalami hambatan. Tanpa di sadari hati ini sebenarnya sudah tidak ikhlas. Mengeluh... HUUUHHHH....
Wah2 tanda2 diatas bisa jadi bahaya. Bukan buat siapa2 tapi buat diri kita sendiri. Karena tanpa disadari semangat bekerja bisa jadi menurun. Seperti yang saya alami beberapa hari terakhir, hehe. Setiap kali akan ada event yang saya kerjakan, huuaaahhh... rasanya pekerjaan tidak ada habisnya. Telepon Cellular saya tidak berhenti berbunyi, (halah sok sibuk,,, heheh). Janji2 yang pernah saya sampaikan ke orang2 terdekat untuk sekedar ngopi, atau mengantar ibu pergi sudah dipastikan tidak akan terpenuhi. Saat jarum jam mengejar saya untuk berlari kencang.
Entah apa yang ada dalam otak saya, (tanpa aba2, tanpa mantra, tanpa di duga, hehea) tiba2 terpikir tagline dari produk multivitamin yang sering muncul di tipi... Berani kerja, berani capek... Waaahhh sederhana tapi memang kalau kita menyadari sebagai bentuk dari konsekuensi capek bisa jadi hal yang menyenangkan. Manakala pekerjaan kita berakhir dengan ''sukses''.
Langganan:
Postingan (Atom)